DI KEBUN BUAH

Tjlatjapan Poetry Forum, dalam upaya menggali pemikiran dari para penyair yang aktif berkarya bertempat di rumah penyair Badruddin Emce, Jalan Kendeng Nomor 39, Kroya, Cilacap, pada Jumat malam 1 Juni 2007, mulai pukul 20.00 WIB telah menggelar acara bertajuk Baca Puisi Putra Serayu dengan menghadirkan penyair Teguh Trianton (Purbalingga), Nanang Anna Noor (Ajibarang) dan Faisal Kamandobat (Majenang).

Dibuka oleh aktivis “Genesis” Majenang, Mas’udi, serta dihantar pembawa acara penyair Damar Nurani (Wanareja) acara pembacaan puisi menjadi mengalir. Tampil pertama Teguh Trianton, meski baru sembuh dari kecelakaan, mampu mendedahkan dengan baik karyanya seperti Narasi Ciuman, Kamandaka, Membenci Malam, Lalu Cinta adalah Luka, Ulang Tahun Hujan, dan beberapa lagi. Selanjutnya Nanang Anna Noor, seperti ingin menghibur, berhasil mengundang tawa sebagian besar undangan, saat dengan iringan gitar melagukan karyanya berjudul Mengunyah Hingga ke Langit-langit, Anakku, Makanlah Batu, 3 dan des des des. Terakhir Faisal Kamandobat yang menurut penyair Y. Jaka Cahyana karya-karyanya menyerupai dongeng nina-bobo, cenderung tampil dingin menekan namun dengan tempo yang terjaga

2 Tanggapan ke “DI KEBUN BUAH”

  1. nugroho Berkata:

    wah…mas badrun masih tetap bersemangat…..membaca berita ini aku jadi ingat sekira 15 tahun lampau….biasa diundang malam-malam ke rumah mas Badrun…disitu telah berkumpul penyair tak hanya dari wilayah Banyumas, tetapi juga datang dari yogya dan kota-kota lain…..waktu itu aku masih “bawang kontong” (sekarang dalam soal perpuisian juga masih “Bawang Kontong”)….rupanya sekian belas tahun kemudian, acara-acara itu masih digelar…mas Badrun memang sangat “Budhis” (budhis tapi En Oe….he…he..he), dari dulu semangat “Zen” nya luar biasa….dia begitu dekat dan sangat akrab dengan alam…bagi mas Badrun semua benda. semesta alam itu bernafas seperti manusia, aktifitas fisiknya yang sangat :reduP, oleh mas Badrun bisa terlihat begitu “terang”, yang “sayup” bisa terdengar seperti bunyi “ledakan” (ingat nggak mas waktu kita bikin buletin sastra “Belanga”…ada edisi kedua yang aku ingat, edisi “Ledakan Pohon Randu”)….makanya tidaklah heran bila malam pagelaran puisi itu di beri tajuk “Di Kebun Buah”…..kalau Nanang Ana Noor kayanya sudah gak asing, sekian belas tahun lalu, pada acara yang sama yang aku hadiri, Nanang juga membaca puisi…(gaya-gaya ekspresif dan teatrikalnya kayanya masih lekat ya…termasuk gaya-gaya mbanyolnya…he…he…he)…cuma dalam berita koq ga ada mas Anshor, yang pembawaannya lebih kalem….juga kawan-kawan lain seperto Yon Bayu Wahyono…pa mereka sudah pada pensiun ya…he…he…he…salam buat rasa rinduku kepada masa lalu, kepada tlatjap…he…he…he

  2. nugroho Berkata:

    wah…mas badrun masih tetap bersemangat…..membaca berita ini aku jadi ingat sekira 15 tahun lampau….biasa diundang malam-malam ke rumah mas Badrun…disitu telah berkumpul penyair tak hanya dari wilayah Banyumas, tetapi juga datang dari yogya dan kota-kota lain…..waktu itu aku masih “bawang kontong” (sekarang dalam soal perpuisian juga masih “Bawang Kontong”)….rupanya sekian belas tahun kemudian, acara-acara itu masih digelar…mas Badrun memang sangat “Budhis” (budhis tapi En Oe….he…he..he), dari dulu semangat “Zen” nya luar biasa….dia begitu dekat dan sangat akrab dengan alam…bagi mas Badrun semua benda. semesta alam itu bernafas seperti manusia, aktifitas fisiknya yang sangat “redup”, oleh mas Badrun bisa terlihat begitu “terang”, yang “sayup” bisa terdengar seperti bunyi “ledakan” (ingat nggak mas waktu kita bikin buletin sastra “Belanga”…ada edisi kedua yang aku ingat, edisi “Ledakan Pohon Randu”)….makanya tidaklah heran bila malam pagelaran puisi itu di beri tajuk “Di Kebun Buah”…..kalau Nanang Ana Noor kayanya sudah gak asing, sekian belas tahun lalu, pada acara yang sama yang aku hadiri, Nanang juga membaca puisi…(gaya-gaya ekspresif dan teatrikalnya kayanya masih lekat ya…termasuk gaya-gaya mbanyolnya…he…he…he)…cuma dalam berita koq ga ada mas Anshor, yang pembawaannya lebih kalem….juga kawan-kawan lain seperti Yon Bayu Wahyono…apa mereka sudah pada pensiun ya…he…he…he…salam buat rasa rinduku kepada masa lalu, kepada tlatjap…he…he…he

Tinggalkan Balasan